Devisa yang dikirimkan pekerja migran Korea di Jerman menjadi benih "keajaiban ekonomi Sungai Han"

Musim panas di tahun 1963. Seorang pemuda Korea bernama, Yang Dong-yang, membaca sebuah iklan peluang kerja di Jerman Barat. Pria yang baru berusia 24 tahun itu, baru saja tiba di kota Seoul dari daerah pedesaan. Tujuannya ke Seoul untuk mencari pekerjaan. Melihat peluang kerja yang terbuka di luar negeri, saat itu ibarat air hujan di tengah kemarau panjang! Kehidupan keluarganya dan situasi ekonomi Korea yang miskin, membuat hatinya sangat senang ketika membaca tentang peluang kerja di luar negeri. Ini merupakan jalan keluar yang sangat langka.

Ternyata ketika membaca iklan tersebut, dia tidak tahu jenis pekerjaan seperti apa yang sedang ditawarkan. Dia hanya tahu bahwa kedua negara, Korea-Jerman barat, telah mengadakan perjanjian kerja “magang teknis” terkait pertambangan di tahun itu. Desember tahun 1963, Pemuda Yang mendarat di kota perbatasan Aachen di Rhine-Westphalia Utara. Dia merupakan kloter pertama bersama 122 pekerja lainnya tiba di Jerman untuk bekerja di pertambangan batu bara Jerman Barat.

Apa yang dialaminya, ternyata diluar perkiraannya. Dia harus bekerja 7 jam sehari dengan rotasi kerja 3 shift, di kedalaman 1.000 meter di bawah tanah. Suhu di atas 40 derajat Celcius, semuanya gelap gulita dan sangat sunyi. Menurut kesaksiannya, puing-puing terus-menerus berjatuh dari langit-langit terowongan tanah dan dia harus membawa seember air berisi 2-3 liter, dan makanan secukupnya. Selama berjam-jam dibawah suhu yang panas, dia harus belajar minum seteguk demi seteguk untuk menghemat air agar cukup. Memang kemajuan pertumbuhan ekonomi Jerman barat yang digerakkan oleh industrialisasi menggunakan energi batu bara saat itu, memerlukan banyak penggalian cadangan tambang – tambang yang baru. Karena hampir di setiap cadangan batu bara baru yang harus digali, orang-orang Korea yang lebih pendek dari orang Eropa, cocok untuk mengali di terowongan setinggi 1 meter. Mereka dapat berlutut, merayap dan merangkak saat menggali.

Pekerjaan “Dirty, Dangerous dan Difficult – 3D”, di Jerman Barat tidak menghalangi semangat dan tekad pemuda Yang untuk maju dan memiliki masa depan yang lebih baik. Dia tidak mengeluh apalagi terlena dengan pendapatan yang tinggi dari hasil kerjanya di pertambangan. Tidak ada waktu berleha-leha di negeri orang apalagi membuang waktu.

Sehabis bekerja fisik yang berat, pemuda Yang belajar siang dan malam di tahun pertama untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jermannya. Dia mulai merasa nyaman berkomunikasi dalam bahasa Jerman di tahun kedua. Di tahun ketiga dia beralih pekerjaan untuk menjadi penerjemah antara pekerja Korea dan orang Jerman. Setelah itu, dia mendaftar di program sarjana arsitektur di Universitas RWTH Aachen. Selama 9 tahun berikutnya, pemuda Yang bekerja sambil kuliah. Selain menyimpan uang untuk dirinya guna pengembangan diri dengan kuliah, Dia mengirimkan sebagian besar uang yang diperoleh ke Korea. Dia akhirnya memperoleh gelar doktor dalam perencanaan kota di universitas yang sama — menjadi orang pertama Korea mendapat gelar Ph.D. di bidang Arsitekur dari Eropa. Dia kemudian kembali ke Korea di tahun 1982 kemudian mengajar di Universitas Korea, selama lebih dari 20 tahun.

Kisah diatas adalah kesaksian dari Mr.Yang Dong-yang,  saat menjadi ketua Asosiasi Pekerja Korea ke Jerman (president of the Association of Korean Workers to Germany). Kisah hidup Mr.Yang,  menjadi pekerja migran di Jerman dapat menjadi inspirasi bagi jutaan pekerja migran Indonesia yang saat ini tersebar di seluruh dunia. Dengan mimpi dan usaha keras dapat mengubah bukan hanya nasib diri sendiri namun, keluarga dan generasi berikutnya!

Sejak 2004 hingga Februari 2020, tercatat tidak kurang dari 85 ribu, pekerja migran Indonesia (PMI) di Korea lewat jalur G to G. Suatu jumlah yang tidak sedikit! Program G to G atau EPS, merupakan kerjasama antara pemerintah Korea dengan sejumlah negara, termasuk Indonesia. Kekurangan pekerja di sektor pekerjaan “3-D”, industri kecil dan perikanan Korea, dan pertumbuhan ekonomi Korea yang sangat pesat dengan julukan “ Keajaiban Sungai Han” membuka banyak peluang bagi para pekerja migran. Para pekerja migran dari berbagai negara ini, bukan hanya sekedar mencari nafkah tetapi juga menjadi penyumbang devisa triliunan Rupiah setiap tahunnya.

Gambaran PMI kita saat ini hampir sama dengan situasi pekerja migran Korea di akhir tahun 1960 an hingga 1970an. Ketika sekitar 8,600 an orang Korea berangkat ke Jerman bekerja di berbagai pertambangan batu bara di Jerman. Selain itu, 11,057 perawat juga diberangkatkan untuk bekerja di berbagai rumah sakit yang ada di sana. Para PMI datang ke Korea sebagai pejuang devisa dalam rangka meningkatkan taraf hidup keluarga. Dengan gaji rata-rata hampir 8-10 kali upah minimum di Indonesia, para PMI dapat menikmati status keuangan yang menggiurkan. Namun kondisi ini, dapat juga meninabobokkan para PMI. Mereka lupa bahwa keberadaan di Korea bersifat sementara. Kurang dari 10 tahun. Waktu 10 tahun, sebenarnya waktu yang cukup untuk mengembangkan dan mempersiapkan diri sebelum kembali ke Indonesia. Memanfaatkan waktu selama berada di Korea, selain bekerja keras – juga perlu belajar keras! Kisah pemuda Yang seorang pekerja di sektor 3-D, dapat mengembangkan diri  mengubah nasib dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya. Kita menantikan kisah-kisah seperti pemuda Yang, muncul dari antara para pekerja migran Indonesia di Korea bukan hanya bekerja keras tetapi juga belajar Keras.ST*

Klik untuk berbagi info
error: Content is protected !!