Salah satu “kelompok” masyarakat yang paling terdampak selama pandemik-covid 19 adalah sivitas-akademika. Para pelajar/mahasiswa, para guru dan dosen termasuk didalamnya. Dalam acara FESTIVAL LITERASI INDONESIA 2020 – Penulis, bersama beberapa orang dispora Indonesia, ikut berbagi cerita tentang kondisi proses belajar di sekolah di negara masing masing. Dalam seminar sesi ke-5 yang mengambil topik Cerita Diaspora: “Tantangan Belajar Saat Covid-19 di Beberapa Belahan Dunia”. Pendidikan di Korea menjadi salah satu topik perbincangan.  

Selain adanya protokol kesehatan umum – seperti pemakaian masker, cuci tangan, jaga jarak dan kebijakan pengecekan suhu tubuh siswa yang “berlapis”, yakni: pertama-tama, dilakukan di rumah sebelum berangkat ke sekolah kemudian dilaporkan melalui aplikasi ke instansi terkait dan, pemeriksaan kedua, setelah tiba di sekolah sebelum memasuki ruang kelas. Setidaknya ada 4 hal menarik dari situasi belajar-mengajar di Korea selama masa Pandemik.

  1. Kombinasi Belajar – “On & Off-Line”: Pada paruh pertama, semester musim semi tahun ini, hampir sepenuhnya proses belajar-mengajar dilakukan dengan kelas online (daring). Namun memasuki paruh kedua, seiring makin terkendalinya penyebaran virus covid-19, pemerintah mengkombinasikan sistem online dengan sistem off-line (tatap muka) secara terbatas. Penerapan sistem off-line terbatas, artinya jumlah siswa yang mengikuti kelas off-line di sekolah dibatasi dengan cara bergantian. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan munculnya cluster baru dalam jumlah besar. Sebagai contoh: untuk siswa SD, dapat mengikuti kelas off-line setiap 3 minggu sekali (triweekly), karenanya siswa yang hadir sekolah hanya 2 tingkatan saja secara bergantian. Kelas online diadakan dengan tiga cara, yakni: (1) pola interaksi dua arah secara “real-time” melalui telekonferensi, (2) menggunakan konten edukasi secara online dengan memanfaatkan materi pendidikan yang tersedia di saluran TV Pendidikan EBS, youtube, dll. dan (3) pekerjaan rumah (PR) yang disediakan oleh guru.
  2. Ketersediaan Perangkat Komputer/gadget Siswa sebelum kebijakan On-Line. Hal yang patut diacungi jempol terhadap kementerian Pendidikan Korea, bahwa sebelum menerapkan sistem belajar online, pemerintah terlebih dahulu melakukan survei. Survei dilakukan terkait ketersediaan perangkat pendukung, seperti komputer atau gadget/smart phone, dan internet di setiap keluarga siswa. Dengan survei tersebut pemerintah dapat mengantisipasi kebutuhan pendukung untuk disediakan oleh pemerintah. Bagi keluarga yang membutuhkan dukungan, kementerian Pendidikan melalui sekolah meminjamkan perangkat pendukung. Selain itu beberapa perusahaan besar di Korea juga ikut berkontribusi memberikan sumbangan berupa perangkat smart-phone, untuk dipakai oleh murid-murid dari keluarga yang kurang mampu, atau tidak memiliki perangkat pendukung belajar online.
  3. Siswa Kelas SMU – tetap offline. Berbeda dengan di kebanyakan negara lain di dunia, para siswa SMA di Korea tidak perlu menghadapi ujian akhir sekolah untuk menentukan kelulusan. Artinya semua siswa, setelah mengikuti proses belajar mengajar selama 12 tahun, akan otomatis dinyatakan lulus. Meskipun demikian, para siswa SMA di Korea Selatan harus menghadapi ujian masuk perguruan tinggi yang disebut dengan “Suneung” setara dengan College Scholastic Ability Test (CSAT), di belahan dunia lain. Suneung sangat berpengaruh pada masa depan seseorang di Korea, termasuk dalam mencari pekerjaan. Hal ini justu membuat banyak siswa merasakan tertekan besar. Oleh karena itu, mengingat sedemikian pentingnya ujian tersebut, maka walaupun dalam kondisi pandemik saat ini, para pelajar kelas 3 SMU tetap mengikuti pelajaran secara off-line di kelas dengan memperhatikan protocol covid secara ketat.                                     
  4. Mengunakan shield pemisah di kelas. Mengunakan masker wajah adalah pemandangan umum. Namun di tempat anak kami belajar, sebuah sekolah dasar milik pemerintah, setiap meja lengkapi dengan shield pemisah (divider) yang terbuat dari plastik. Sehingga, setiap anak memiliki “ sangkar” tersendiri. Jarak Sosial di dalam dan di luar ruangan sangat ditekankan. Para siswa hanya bisa beraktifitas di tempat duduknya. Menariknya kebijakan pembuatan fasilitas seperti ini, tentunya berbeda dari provinsi ke provinsi, mengingat kebijakan anggaran Pendidikan di Korea, sangat tergantung pada pengelolaan anggaran daerah masing masing. Dengan berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah pada tahun 1991, Kementerian Pendidikan mendelegasikan sebagian besar perencanaan anggaran dan keputusan administratif utamanya kepada pemerintah daerah.    

Ada banyak hal menarik lain, terkait kebijakan maupun sistem Pendidikan di Korea itu sendiri, baik secara umum maupun secara khusus selama masa pandemi covid-19. Mengingat sistem Pendidikan di Korea berdasarkan berbagai survei, telah diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia.  Suwon2020

Klik untuk berbagi info
Translate »
error: Content is protected !!