Seperti halnya di Indonesia, Korea juga memiliki berbagai bentuk badan usaha. Terdapat beberapa kesamaan dan juga perbedaan antara bentuk badan usaha di Indonesia dan di Korea. Badan usaha seringkali disamakan dengan perusahaan, walaupun pada kenyataannya berbeda. Perbedaan utamanya, badan usaha adalah lembaga, sementara perusahaan adalah tempat di mana badan usaha itu mengelola faktor-faktor produksi.Berdasarkan Hukum Dagang Korea atau Korean Commercial Code, ada lima jenis badan usaha, yaitu Hapmyung Hoesa, Hapja Hoesa, Yuhan Chaekim Hoesa, Chusik Hoesa, dan Yuhan Hoesa. Dalam konteks ini, Hoesa dapat diartikan sebagai badan usaha atau perusahaan. Berbeda halnya di Indonesia yang “mewajibkan” investor asing untuk memilih badan usaha dalam bentuk Perseroaan Terbatas (PT), selain juga dapat mendirikan kantor cabang dan perwakilan, di Korea investor asing dapat memilih salah satu dari ke lima jenis badan usaha tersebut sebagai entitas untuk melakukan investasinya di Korea. Untuk itu sebelum melakukan investasi atau melakukan kerjasama usaha dengan mitra di Korea, sebaiknya memperhatikan karakteristik setiap badan usaha berikut ini:

1. General Partnership/Firma (Hampyeong Hoesa)Dalam bentuk badan usaha ini, semua mitra (pemodal) memiliki tanggung jawab tak terbatas yang berarti masing-masing mitra sama-sama bertanggung jawab atas kewajiban badan usaha kepada kreditornya. Pengalihan kepemilikan dalam jenis bisnis ini bersifat terbatas karena mensyaratkan persetujuan bulat dari semua mitra sebelum pengalihan kepemilikan dari satu mitra ke mitra yang baru dilakukan. Secara umum, setiap mitra berhak untuk mengelola dan mewakili hapmyung hoesa. Oleh karena itu, tidak ada organ badan usaha seperti direksi atau rapat umum pemegang saham. Di Indonesia bentuk badan usaha seperti ini dapat disamakan dengan FIRMA.

2. Limited Liability Partnership (Hapja Hoesa)Para mitra terdiri dari mereka yang memiliki tanggung jawab terbatas dan mereka yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas. Mitra yang memiliki kewajiban tidak terbatas memiliki kewenangan untuk mengurus perusahaan sementara mitra yang tanggung jawab terbatas hanya berpartisipasi pada perusahaan melalui investasi modal dan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan urusan perusahaan. Anggota tidak terbatas bertanggung jawab atas kewajiban perusahaan dan anggota terbatas hanya bertanggung jawab sejumlah modal yang telah mereka investasikan di perusahaan. Di Indonesia, bentuk usaha seperti ini, dapat disamakan dengan Commandiatire Vennotschap or CV.

3. Limited liability ‘Company’ (Yuhan chaekim hoesa) Jenis badan usaha ini, termasuk unik karena merupakan perpaduan antara partnership dan korporasi, sebanding dengan perusahaan perseroan terbatas (LLC) di Amerika Serikat. Tanggung jawab pemodal (mitra) terbatas pada kontribusi modalnya saja, sedangkan hak-hak mengelola dan mewakili perusahaan dialokasikan secara setara kepada setiap mitra. Karena itu, dalam menjalankan perusahaan dalam bentuk yuhan chaekim hoesa ini, para mitra terlebih dahulu membuat persetujuan atau kesepakatan bersama mereka. Tidak ada persyaratan modal minimum untuk pendirian, maupun persyaratan memiliki direktur atau auditor, hanya dibutuhkan manager, berdasarkan hukum dagang Korea. Di Indonesia, tidak ditemukan padanan bentuk badan usaha yang serupa.

(berlanjut….)

Klik untuk berbagi info
Translate »
error: Content is protected !!